Kamis, 21 Desember 2017

Cerpen terbaru : Hadiah Kala Hujan oleh Coretan Tintaku 2018

HADIAH KALA HUJAN
Oleh : Fortuna


Perkenalkan nama Aku adalah Naila Seruni semua orang biasa menyapaku Nai. Aku adalah anak tunggal dari keluarga seorang petani, Ibu dan Ayah sudah berpisah namun aku memilih tinggal bersama Ayah karena Ibu menikah lagi, saat pagi menjelang mataharipun nampak malu menampakan sinarnya.
“Nai, Ayah akan pergi keladang. Kamu jaga rumah!” Kata Ayah sambil membawa cangkul.
“Baik Ayah.” Perkataan Ayah seperti titah bagiku sehingga tidak bisa ditolak apalagi dilanggar.
Setelah Ayah berlalu Aku memutuskan  untuk mengerjakan tugas, belum saja buku terbuka lembarannya. Suara ketukan dari arah luarpun terdengar Aku pun mulai mendekatkan diri untuk membuka pintu.
“Seli?”
“Nai, lepas sakit tau!” Seli berusaha melepaskan pelukanku, apakah gadis ini tidak rindu padaku.
“Yasudah ayo masuk kedalam ,Li.” Ajaku padanya karena awan berubah menjadi gelap.
Sesampainya di dalam kami pun berbincang banyak hal mengenai kehidupan Seli yang menyenangkan.
“Wah enak banget dong Kamu ,Li setiap hari selalu mendapatkan kebahagiaan, pantas saja sekarang Kamu jarang main kerumahku.” Benar-benar kehidupan yang mewah Aku terkadang ingin menjadi sosok Seli yang selalu dimanjakan oleh kedua orang tua.
“Kalau Kamu sendiri bagaimana Nai? Kurasa Kamu jauh lebih bahagia ketimbang aku benarkan?”
“kamu ini mengejek atau bagaimana sih? Tentu Aku tidak sebahagia Kamu. Kehidupanku sangat kurang sekali bahkan semenjak Ayah dan Ibu berpisah lengkaplah sudah penderitaan ku.”
Aku menumpahkan segala yang ada dihati toh Seli adalah sahabat baikku ia tidak akan menceritakannya pada orang lain mengenai keluh-kesahku.
“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu Nai?”
Baru saja Aku ingin menjawab tiba-tiba diluar sana air hujan mulai berjatuhan namun lama kelamaan air itu turun semakin deras.
“Hujan Sel.” Keluhku sambil menatap hujan dari balik jendela.
“Why ? hujan itukan anugerah dari Allah Swt Nai harusnya Kamu bersyukur dengan turunnya hujan.” Nasihat Seli padaku namun tetap saja aku sedang berpikir selanjutnya apa lagi yang akan aku temukan didepan pintu setelah hujan mereda.
“Nai apakah Kamu baik-baik saja?” Seli mengibaskan lengannya didepan wajah ku.
Aku pun tersadar dari lamunanku. “Ikut Aku.”
Aku menuntun Seli agar ikut bersamaku karena di luar sana hujan sudah mulai reda karena suara hujan itu tidak terdengar lagi.
Seli hanya pasrah saja saat aku menuntunnya untuk membuka pintu rumah. Ia tidak berkomentar apapun.
“Itu dia!” pekik ku dengan senang. Sudah tersedia sebuah kotak besar berwarna hijau muda. Sedangkan Seli hanya mengerutkan kedua alisnya karena heran apa yang ada didalam kotak itu dan apa maksudnya. Saat aku membuka kotak besar itu isinya yaitu sebuah gaun berwarna biru muda dan tersedia sebuah pita disisi kanan dan kiri gaun tersebut.
“Wah gaunnya bagus banget Nai. Ini dari siapa?”
“Jadi akhir-akhir ini setiap hujan datang dan mulai mereda Aku selalu menemukan sebuah hadiah yang tersedia dibawah pintu rumahku. Dan anehnya hadiah itu akan kutemukan setelah adanya hujan, aneh bukan?”
Saat malam hari Akupun selalu kepikiran apa yang diucapkan oleh Seli sahabatku.
“Apakah benar aku memiliki pengagum rahasia?seandainya benar siapa orangnya?”
Keesokan harinya teman-temanku datang kerumah karena kami akan kerja kelompok diantaranya ada Dila,Reni,Ahmad, dan Rio.
“Eh sini biar Aku saja yang menggunting kartonnya.” Kata Dila namun Ahmad tidak memberikan gunting tersebut pada Dila. Saat mereka berdua sedang debat tiba-tiba suara petir seakan menyambar tiang rumah.
“Wah kayaknya mau hujan nih.” Reni terlihat panik. Namun Aku merasa senang kalau hujan Aku akan mendapatkan sebuah hadiah. Seandainya tidak kutemukan hadiah itu sudah kusimpulkan yang menaruh hadiah itu antara Ahmad dan Rio karena tidak mungkin kalau Reni dan Dila secara mereka ini kan adalah wanita.
Aku selalu melihat ke bawah pintu untuk memastikan hadiah itu namun tidak kutemukan barang jejak kaki sekalipun. Hadiah itu tidak kutemukan apakah benar yang ada dalam pikiranku ini bahwa diantara merekalah pelakunya?.
Sampai keempatnya pulang pun hadiah itu tidak juga Nampak. Keesokan harinya aku bercerita pada Seli.
“Nah benar kan perkiraanku, pastilah diantara temanmu itu.” Ucap Seli merasa bangga.
“Tapi Sel.” Belum saja aku menuntaskan bicara ku namun Seli sudah memotong nya, “Gue pengen nanya sama Loe, apakah setiap adanya hujan hadiah itu selalu ada didepan pintu rumah Loe?” Pertanyaan Seli membuatku mengingat yang lalu.
“Iya setiap hujan hadiah itu selalu datang Sel, dan baru kali ini pas hujan hadiah nya tidak datang.” Mendengar jawabanku Seli menjentikkan jarinya.
“Gak salah lagi ini semua pasti kelakuan temen cowok Loe yang suka sama Loe Nai.”
Aku jadi terus memikirkan yang diucapkan Seli tadi siang aku pun memutuskan untuk bertanya langsung kepada Rio dan Ahmad.
“Rio, Aku ingin berbicara padamu.”
“Yasudah kalau ingin bicara ya bicara saja.”
“Apakah Loe yang selama ini kasih Gue hadiah setiap adanya hujan?” Ia mengernyitkan dahi nya.
“Bukan Nai sama sekali bukan! ya kali Gue kurang kerjaan banget! Mending Gue tidur pas hujan gitu.” Mendengar jawaban nya aku pun memilih untuk pergi dari Rio dan menemui Ahmad.
Saat aku mengutarakan apa yang terjadi Ahmad pun tertawa bukan ini yang aku harapkan, kuharap Ahmad lah pelaku sebenarnya.
Tiba-tiba ada yang menarik rambutku kebelakang siapa lagi kalau bukan Monik kekasihnya.
“Dasar cewek murahan.” Kamipun akhirnya berkelahi hingga menimbulkan luka.
Disinilah kami diruang Bimbingan Konseling.
“Nak apa yang terjadi padamu?” Ucap Ibuku, mengapa Ibu? Karena Ayah tidak memiliki Hape untuk dihubungi pihak sekolah.
Aku pun menceritakan apa yang terjadi dari awal, “Anakku, dengar kan Ibu bahwa sebenarnya yang melakukan itu semua adalah ibu. Kamu pasti bertanya mengapa ibu melakukan itu jawabannya karena Ayahmu melarang Ibu menemuimu jadilah Ibu hanya berani memberikan hadiah untukmu ketika hujan datang, kamu pasti bingung kenapa pas kemarin hujan tidak ada hadiah tersedia seperti yang sudah sudah? Jawabannya Ayah mu sudah mengetahui jadi Ibu dilarang untuk memberikan hadiah untukmu lagi.”
Dengan lemas aku memeluk tubuh Ibu, sambil berteriak  “Ayah jahattttt!!!”

Selesai
(Bekasi, 21 Desember 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar